JOKOWI DORONG PRODUKTIVITAS PERKEBUNAN KELAPA SAWIT LEWAT PROGRAM PEREMAJAAN SAWIT RAKYAT

        


Pemerintah tengah melakukan upaya perbaikan dari sektor hulu perkebunan kelapa sawit rakyat dengan cara penggantian tanaman tua atau tidak produktif melalui program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).


Perekonomian global kini sebagian besar mengalami kontraksi. Kondisi itu tidak terlepas dari ekses pandemi Covid-19 dan perang Ukraina-Rusia yang masih melukai perekonomian dunia.


Indonesia pun tetap juga terkena imbasnya, meski tak separah seperti yang dialami sebagian perekonomian negara-negara di dunia. Situasi dan kondisi itu terkonfirmasi dari pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam pelbagai kesempatan. Menurut Menkeu Sri, perekonomian Indonesia diproyeksikan tetap akan mengalami pertumbuhan meski melambat.


Dia menambahkan, perekonomian Indonesia pada 2023 tidak akan sekuat tahun lalu, yang bisa mencapai 5,2 persen--5,3 persen. Meski begitu, Sri Mulyani masih meyakini, ekonomi Indonesia bisa melaju di atas 5 persen di 2023.


Optimisme ini muncul menyusul pencabutan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) pada Desember 2022. Selain itu, Sri Mulyani menilai, aliran masuk penanaman modal asing (PMA) yang meningkat dan berlanjutnya penyelesaian proyek strategis nasional (PSN) bakal menjadi booster. Dalam konteks perekonomian nasional, sektor pertanian ternyata tetap tumbuh positif. Hal itu dibuktikan kurang lebih selama tiga tahun di masa pandemi.


Pada saat yang sama, kinerja ekspor sektor pertanian juga menunjukkan tren positif. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor pertanian pada Januari—Desember 2022 sebesar Rp640,56 triliun atau naik 3,93% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.


Bahkan, subsektor perkebunan menjadi penyumbang terbesar ekspor di sektor pertanian dengan kontribusi mencapai 97,16 persen atau sebesar Rp622,37 triliun. Ekspor komoditas perkebunan yang melonjak pada 2022 paling besar disumbang komoditas kelapa sawit dengan nilai Rp468,64 triliun atau 75,30 persen.


Dalam Rapat Koordinasi Kelapa Sawit Nasional di Jakarta, Senin (27/2/2023), Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengonfirmasi kinerja sektor perkebunan yang moncer tersebut. Mentan Syahrul mengemukakan, komoditas kelapa sawit menjadi salah satu sumber devisa negara.


“Pertumbuhan ekspor kita di atas Rp600 triliun, 90 persen di tangan sawit dan perkebunan yang lain,” ujarnya.


Dalam kesempatan itu, Mentan mengingatkan, bulan madu dengan harga yang kompetitif terhadap komoditas kelapa sawit di pasar dunia tentu membutuhkan keberlanjutan, terutama bagi subsektor perkebunan kelapa sawit rakyat yang kini harus menghadapi tantangan besar terkait dengan produktivitasnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

BURUH PENDUKUNG GANJAR PRANOWO PASARKAN PRODUK UMKM CIREBON DI WARUNG GANJARAN

Jokowi Ucapkan Belasungkawa untuk Tragedi Halloween di Korea Selatan

GANJAR MILENIAL CENTER JATENG GELAR PELATIHAN PUBLIC SPEAKING DI KLATEN