PRODUK HILIRISASI MENYUMBANG LONJAKAN EKSPOR BESAR BAGI INDONESIA

  


Ekspor Indonesia terus mencatat peningkatan dari tahun ke tahun. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto mengatakan, nilai ekspor Indonesia sepanjang 2022 mencapai USD268 miliar atau setara dengan Rp4.147 triliun (dengan kurs Rp15.473 per dolar AS). Dibanding capaian 2021, ekspor 2022 ini mengalami kenaikan 15,7 persen.


‘’Capaian itu ditopang oleh ekspor yang cukup tinggi dari beberapa komoditas, seperti besi dan baja, bahan bakar fosil, minyak kelapa sawit (CPO), hingga batu bara,’’ ujar Airlangga, seusai rapat kabinet terbatas di Istana Kepresidenan, Rabu (11/1/2023).


Catatan ekspor 2022 itu juga menandai rekor surplus perdagangan tanpa jeda selama 32 bulan, sejak Mei hingga Desember 2022. Dari sisi tujuan ekspor, menurut Menko Airlangga, tak banyak perubahan. Tujuan ekspor yang terbesar tetap Tiongkok dengan kontribusi USD57,7 miliar, antara Januari–November 2022.


Pada periode yang sama pula, ekspor terbesar kedua adalah ke Amerika Serikat (AS) dengan USD21,6 miliar, dan ketiga Jepang USD21,1 miliar. ‘’Berikutnya ke Malaysia USD12,5 miliar, kemudian juga Korea Selatan USD9,8, Singapura USD8,8, dan kita lihat ke Uni Eropa (UE) totalnya sekitar USD19,6 miliar,” ujar Menko Airlangga.


Untuk ke seluruh negara ASEAN, bila dijumlahkan ekspor Indonesia 2022 mencapai USD48,9 miliar. Ke depan, Airlangga mengatakan bahwa pemerintah akan terus memperkuat pangsa pasar ekspornya di negara-negara ASEAN.


Pasar Uni Eropa diharapkan terus bisa dimekarkan, dan peluangnya terbuka. Untuk memuluskan jalan, Presiden Joko Widodo telah menargetkan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) rampung tahun ini.


Menko Airlangga mengatakan, Presiden Joko Widodo sudah berkomunikasi dengan Kanselir Jerman Olaf Scholz. Selain itu, kebetulan Indonesia kembali dipercaya untuk menjadi Official Partner Country Hannover Messe 2023, sehingga bisa memanfaatkan kedekatan Jokowi dengan Olaf Scholz untuk memfinalisasikan IEU CEPA.


‘’Ini sangat penting karena beberapa komoditas ekspor, terutama TPT (tekstil dan produk tekstil) kita, masih mendapatkan bea masuk 10 hingga 12 persen. Padahal dari Vietnam dan Bangladesh bisa 0 persen. Ini menjadi prioritas pemerintah untuk dinegosiasikan," ujar Menko Airlangga.


Meskipun 2023 diantisipasi sebagai tahun sulit dan dibayang-bayangi pelambatan ekonomi global, Menko Airlangga optimistis bahwa ekonomi Indonesia tetap akan bisa tumbuh. Nilai ekspor Indonesia diharapkan masih dapat tumbuh dua digit 12,8 persen dan impornya 14,9 persen. Batu bara, CPO, dan besi baja tetap menjadi andalan ekspor.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

BURUH PENDUKUNG GANJAR PRANOWO PASARKAN PRODUK UMKM CIREBON DI WARUNG GANJARAN

Jokowi Ucapkan Belasungkawa untuk Tragedi Halloween di Korea Selatan

GANJAR MILENIAL CENTER JATENG GELAR PELATIHAN PUBLIC SPEAKING DI KLATEN