Hebat! Jokowi Berhasil Realisasikan Pemerataan Pembangunan Di Seluruh Indonesia
Jakarta - Guru Besar Universitas Tadulako (Untad) Mohammad Ahlis Djirimu mengakui keberhasilan Presiden Joko Widodo atau Jokowi dalam merealisasikan pemerataan pembangunan. Ahlis mengatakan, Jokowi mampu menghadirkan fasilitas-fasilitas yang sama di setiap daerah di Indonesia.
Ahlis melihat pembangunan infrastruktur yang digagas oleh Jokowi tidak hanya terpaku di Pulau Jawa. Namun daerah-daerah seperti Papua juga turut merasakan buah dari keberhasilan pembangunan Presiden ke-7 RI ini.
“Fasilitas yang ada, kita juga tidak bisa mengabaikan fasilitas di wilayah timur, khususnya di NTT dan Papua,” ujar Ahlis dalam keterangan tertulisnya, Jumat (30/9/2022).
Dia menuturkan bahwa pembangunan infrastruktur di era kepemimpinan Jokowi bukan hanya fokus pada proyek jalan tol, bandara, atau pelabuhan saja. Namun aspek-aspek sosial yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat seperti ketersediaan air melalui bendungan juga diperhatikan.
“Pemerintah kita tidak hanya fokus kepada jalan, namun irigasi juga diperhatikan. Bendungan sangat bermanfaat bagi masyarakat,” tutur Ahlis.
Di sisi lain, Ahlis juga melihat keberhasilan Jokowi dalam menyediakan infrastruktur transportasi untuk masyarakat. Jokowi dinilai mampu merealisasikan pemerataan infrastruktur transportasi yang terpadu di seluruh daerah di Indonesia.
“Misalnya transportasi massal seperti di Jakarta. Mulai dari busway hingga kereta bawah tanah. Ada juga LRT di Sumatera Selatan. Ini semua dari sisi asas kemanfaatannya sangat tinggi,” ucapnya.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan Jembatan Gantung Wear Fair di Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku, Rabu, (14/9/2022). Menurut Jokowi, pembangunan jembatan adalah penting sebagau bagian dari infrastruktur untuk mempercepat mobilitas orang dan barang.
"Jembatan Wear Fair ini penting sekali dalam rangka mobilitas orang maupun mobilitas barang," ujar Jokowi dalam keterangan pers diterima, Rabu (14/9/2022).
Jokowi menuturkan, jembatan gantung yang baru diresmikannya ini menghubungkan dua pulau kecil, Pulau Fair dan Pulau Kei Kecil. Hal ini merupakan komitmen pemerintah dalam membangun infrastruktur secara merata hingga ke seluruh pelosok Tanah Air.
“Yang kita bangun itu bukan hanya jalan tol yang gede-gede, atau pelabuhan yang gede-gede, atau airport yang gede-gede, tapi jembatan antardesa, jembatan antarpulau yang seperti ini juga ini,” jelas Jokowi.
Diketahui, dalam satu tahun pemerintah sudah membangun sekitar 200 jembatan serupa sebagai akses konektivitas warga, baik antarkecamatan, antardesa, maupun antarpulau.
Menanggapi hal itu, Direktur Pembangunan Jembatan Kementerian PUPR, Yudha Handita Pandjiriawan, dalam keterangan terpisahnya mengatakan, Jembatan Gantung Wear Fair memiliki panjang 120 meter dengan lebar 1,8 meter. Jenis jembatan gantung dipilih karena proses pembangunan yang cepat dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekitar, sehingga masih cukup difasilitasi kendaraan roda dua dan penyeberangan.
Langkah Jokowi dalam merealisasikan pembangunan infrastruktur berhasil menyentuh hingga pelosok desa. Inin menjadi bukti komitmen Jokowi dalam mewujudkan pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Tanah Air.
Tokoh Pemuda Nasional Kartika Nur Rahman mengatakan, Sedari awal Jokowi telah meletakkan pembangunan infrastruktur pada program prioritas pemerintahan. Hal itu kemudian berhasil diwujudkan hingga manfaatnya sudah bisa dinikmati sekarang.
“Yang paling mencolok dari kepemimpinan Pak Presiden Jokowi ini kan bagaimana dia bisa melakukan pemerataan pembangunan," ujar Kartika dalam keterangan tertulisnya.
Lebih lanjut, dia mengakui, pemerataan pembangunan infrastruktur era Jokowi begitu terlihat nyata. Pembangunan tidak hanya dilakukan di pusat kota, tapi hingga menyentuh ke pelosok pedesaan di setiap wilayah.
Kehadiran pembangunan infrastruktur Jokowi, kata Kartika, juga menyentuh hingga ke Kawasan 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Hal itu menunjukkan bahwa peran besar Jokowi dalam pembangunan daerah sangat penting.
"Bahkan di daerah-daerah terpencil, daerah-daerah perbatasan yang selama ini tidak pernah terjangkau,” tutur mantan Ketum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) ini.
Data dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) mencatatkan desa sangat tertinggal kini berkurang 8.471 desa atau dari 13.453 desa pada 2015 menjadi 4.982 desa pada 2022.
Selain itu, desa tertinggal berkurang 24.008 desa, dari 33.592 desa menjadi 9.584 desa pada 2022. Kemudian, desa maju bertambah 16.641 desa, dari 3.608 desa menjadi 20.249 desa.
Sebelumnya, Presiden Jokowi mengingatkan kepala desa (Kades) agar bahan baku untuk membangun infrastruktur seperti semen dan batu bata dibeli dari desa tersebut. Hal ini agar ada perputaran uang, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi di desa tersebut.
"Saya hanya titip, bolak-balik saya sampaikan kalau membangun fisik ataupun nonfisik gunakan bahan-bahan material dari desa itu, dari desa Bapak/Ibu semuanya. Paling jauh itu dari kecamatan," kata Jokowi saat membuka Silaturahmi Nasional Assosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Tahun 2022 di Jakarta Pusat, Selasa (29/3/2022).
"Mau beli semen, ada di desa beli di desa. Mau beli batu bata, ada di desa beli di desa kita sendiri. Supaya apa? Uang itu berputar terus di desa kita, paling jauh di kecamatan kita," sambungnya.
Dia tak ingin dana desa yang sudah dianggarkan pemerintah nantinya kembali lagi ke kota, khususnya Jakarta. Pasalnya, hal ini akan membuat ekonomi hanya bertumbuh di kawasan perkotaan saja.
"Jangan sampai uang itu kembali ke kota apalagi kembali ke Jakarta. Hati-hati kembali lagi kesini, hati-hati berarti pertumbuhan ekonomi secara terus-menerus dan berkelanjutan itu akan juga kembalinya ke pusat lagi," ujarnya.

Komentar
Posting Komentar