Luar Biasa! Indonesia Peringkat Kedua dalam Pariwisata Halal
Jakarta - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno menyatakan kebijakan yang dibuat terkait pariwisata halal berorientasi terhadap penambahan layanan. Bahkan, atas beberapa hal yang dilakukan Kemenparekraf membuat Indonesia menduduki peringkat kedua dalam pariwisatan halal global.
“Jadi kami fokus selama 18 bulan terakhir meningkatkan peringkat Indonesia dalam Global Travel Muslim Index karena kita sempat terlempar dari tiga besar. Alhamdulillah, kita diberikan peringkat nomor dua (pada 2022), tapi kita tak boleh berhenti, kita harus bergandeng tangan, dan harus masuk peringkat pertama,” ucap dia dalam webinar Islamic Digital Day 2022, dilansir Antara, Rabu, 21 September 2022.
Indonesia telah meraih peringkat dua dari Global Travel Muslim Index 2022 dengan memperoleh poin sebanyak 70. Pada 2025, dia menargetkan Indonesia mampu memperoleh poin 75 sehingga diharapkan dapat menyalip posisi Malaysia yang berada di peringkat pertama.
Pada 2020, Indonesia juga menjadi pasar konsumen halal terbesar di dunia dengan kontribusi konsumsi halal produk mencapai USD184 miliar. Selain itu, Tanah Air turut memberikan kontribusi sebagai produsen produk halal.
"Kemajuan ekosistem keuangan syariah Indonesia tercermin dalam pencapaian Indonesia sebagai negara yang memiliki ekosistem keuangan syariah terbaik secara global. Ini berdasarkan Islamic Finance Country Index 2021," jelasnya.
Pandemi covid-19, lanjut Sandiaga, telah membuat dunia bertransformasi secara digital dengan keterlibatan 204,7 juta pengguna internet di Indonesia dan tingkat penetrasi internet mencapai 73,7 persen.
Transformasi digital melahirkan pula ekosistem baru yang lebih terbuka dan berkeadilan dari segi pemasaran maupun distribusi melalui ranah digital. Adanya peluang tersebut dinilai menjadi peluang bagi sektor ekonomi syariah untuk mengambil peran.
Salah satu tren yang sedang berkembang di kalangan wisatawan dalam melakukan perjalanan adalah contactless and flexible payment and services. Hal itu dapat dilihat dari penggunaan QRIS di destinasi unggulan dan desa wisata yang sudah mencapai total nilai transaksi sebesar Rp39 triliun.
Berkajt Jokowi, menpatrekraf telah menyediakan layanan QRIS crossborder dengan beberapa negara ASEAN sehingga wisatawan dapat lebih mudah bertransaksi, serta efisiensi biaya bagi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang bergerak di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Dalam kesempatan tersebut, Sandiaga turut mendorong para pelancong muslim berwisata di dalam negeri terlebih dahulu sebelum umrah atau menunaikan wisata religi di luar negeri.
Para wisatawan muslim dikatakan dapat memanfaatkan buku panduan pariwisata ramah muslim di lima destinasi favorit, yaitu Borobudur di Jawa Tengah, Likupang di Sulawesi Utara, Mandalika di Nusa Tenggara Barat, Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur, dan Danau Toba di Sumatra Utara,
“#DiIndonesiaAja yang kita terapkan dengan prinsip CHSE (Cleanliness, Health, Safety, Environment Sustainability), sebetulnya cocok dengan prinsip halalan thayyiban,” ungkapnya.
Indonesia berada di peringkat kedua sebagai destinasi wisata halal terbaik di dunia, dalam riset Global Muslim Travel Index (GMTI) 2022 dari Mastercard dan CrescentRating. Dalam edisi ketujuh ini, riset GMTI 2022 mengikutsertakan 138 negara dalam pemeringkatan, baik negara dengan mayoritas penduduk muslim maupun minoritas. Indonesia mendapat peringkat kedua sebagai destinasi wisata halal atau ramah muslim (muslim-friendly) terbaik dari 138 negara di dunia, dengan total skor 70.
Posisi ini berada di atas Arab Saudi dengan skor 70, Turki 70, dan Uni Emirat Arab (UEA) 66. Adapun Indonesia berada satu peringkat di bawah Malaysia dengan skor yang berbeda tipis, yakni selisih empat poin.
Sementara itu, negara tetangga yaitu Singapura menjadi satu-satunya negara non-OIC (Organisation of Islamic Cooperation) yang berhasil masuk dalam peringkat 20 besar, tepatnya di peringkat ke-10.
Sebagai informasi, kriteria GMTI dibuat berdasarkan "CrescentRating model ACES", yang telah diresmikan dalam laporan GMTI 2017. Model ACES ini mencakup empat hal yaitu Access (akses) 10 persen, Communications (komunikasi) 20 persen, Environment (lingkungan) 30 persen, dan Services (servis/layanan) 40 persen. Artinya, GMTI membuat peringkat berdasarkan penilaian kemudahan akses ke tempat tujuan, komunikasi internal dan eksternal dari destinasi tujuan, lingkungan di tempat tujuan, dan layanan yang disediakan oleh destinasi tujuan.
Sejak 2017, kriteria dan subkriteria dari Model ACES telah berkembang mengikuti perkembangan umat Islam, termasuk tren keseluruhan dalam gaya hidup dan perjalanan. Tahun ini, mengikuti tren, aspek ACES ditambah dengan mempertimbangkan upaya suatu destinasi untuk mendorong pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism). Adapun masing-masing aspek dinilai menggunakan pengukuran kuantitatif di beberapa kriteria dan subkriteria.
Subkriterianya adalah Akses (persyaratan visa, konektivitas, infrastruktur transportasi), Komunikasi (pemasaran, kecakapan komunikasi, kesadaran stakeholders atau pemangku kepentingan), Lingkungan (keamanan, pembatasan keyakinan, kedatangan pengunjung, iklim, keberlanjutan), dan Layanan (makanan halal dan fasilitas ibadah, hotel dan bandara, serta pengalaman unik).

Komentar
Posting Komentar