KIP Kuliah Jokowi Dinilai Bisa Wujudkan Mimpi Rakyat Kecil Belajar Lebih Tinggi

 


Jakarta - Kehadiran Program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah dinilai menjadi bentuk nyata keberpihakan Presiden Joko Widodo atau Jokowi terhadap masyarakat kurang mampu untuk bisa mengakses pendidikan hingga perguruan tinggi. Hingga saat ini penyaluran KIP terus dilakukan secara merata ke seluruh daerah.

Asisten Administrasi Umum Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) Muh Jamil Barambang menuturkan, program KIP Kuliah yang sudah dimulai sejak awal kepemimpinan Presiden Jokowi memberi dampak positif bagi kehidupan masyarakat. Terutama terhadap pemenuhan kebutuhan pendidikan bagi masyarakat kecil di pedesaan.

Berkat program kartu sakti Jokowi ini, kata dia, kini banyak masyarakat telah menuntaskan program wajib belajar 12 tahun. Termasuk juga turut membantu generasi muda dalam meraih impiannya untuk melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi.

“Karena KIP ini merupakan salah satu kebijakan pemerintah, keberpihakkan pemerintah terhadap mahasiswa-mahasiswa yang punya kompetensi akademik baik tapi punya keterbatasan ekonomi,” ucap Jamil dalam keterangan tertulisnya yang diterima Selasa (20/9/2022).

Lebih lanjut, dia menyebut realisasi program KIP yang tepat sasaran tidak terlepas dari keseriusan dan komitmen pemerintah yang sejak awal dibangun Jokowi. Dukungan besar kerap diberikan Jokowi tiap kali program ini diluncurkan.

Dia menilai, program kartu sakti ini dapat mempercepat target peningkatan pendidikan di Tanah Air. Meski begitu, dia berharap pelaksanaan program KIP Kuliah ini dapat terus dikawal hingga ke pelosok desa.

“Untuk tingkat nasional itu cukup bagus, karena memang yang perlu kita evaluasi kan pada tingkat regional atau daerah,” ucap Jamil menandaskan.

Sementara itu, Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda mendorong pemerintah menggratiskan biaya pendidikan di Indonesia hingga tingkat perguruan tinggi. Hal itu bisa dimulai dari revisi Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas).

Dalam draf revisi UU Sisdiknas, wajib belajar yang sebelumnya sembilan tahun diubah menjadi 13 tahun atau sampai SMA. Namun Huda mendorong agar wajib belajar diubah menjadi hingga jenjang perguruan tinggi.

"Indeks partisipasi kasar di Indonesia khususnya indeks partisipasi kasar di perguruan tinggi itu masih jauh banget, jadi lulusan SMA kita untuk bisa melanjutkan ke perguruan tinggi itu masih tinggi banget," kata Huda saat berbincang dengan merdeka.com pada Jumat 2 September lalu.

"Karena itu ini hanya akan bisa diintervensi dengan cara kuliah murah, kuliah gratis saya mendorong revisi UU Sisdiknas yang kita bahas supaya Wajar Dikdas (wajib belajar pendidikan dasar) 18 tahun dari 9 tahun, jadi artinya sampai perguruan tinggi nanti gratis hanya dengan itu akses perguruan tinggi bisa kita dorong," sambungnya.

Huda mengungkapkan, Wajar Dikdas 18 tahun ini sedang dikompromikan dengan pemerintah. Rencananya wajib belajar dimulai dari jenjang Paud.

"Anak-anak sudah bisa gratis di PAUD dan kesejahteraan guru-guru PAUD sudah bisa diselesaikan jadi Wajar Dikdas ini akan kita dorong dalam revisi dan ini menjadi penting karena berefek kepada alokasi anggaran, berefek kepada angka partisipasi kasar akan naik setinggi tingginya karena nanti kuliah gratis dengan wajar dikdas 18 tahun," tuturnya.

Huda menjelaskan, skema kuliah gratis bisa melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Namun, dia mengakui KIP itu memang belum bisa menutupi biaya secara keseluruhan. Soal besaran anggaranya akan ia susun dalam revisi UU Sisdiknas.

"KIP ini baru bisa mengcover pertahun rata rata 200 ribu padahal jumlah anak muda Indonesia yang kuliah pertahun bisa 1 sampai 2 jutaan," ucapnya.

"Nanti akan kita rencanakan sebagai semangat untuk penggunaan 20 persen anggaran pendidikan kita maunya ada pasal pasal yang mengatur terkait itu, tentu gak sedetil itu, karena mandatori yang sifatnya masih umum nanti di PP nya," tuturnya.

Wakil Rektor I UNSULBAR Zulfajri Basri Hasanuddin melihat komitmen Jokowi memberikan hak pendidikan kepada seluruh masyarakat tercermin dalam pelaksanaan Program KIP.

Melalui kartu sakti itu, akses pendidikan berhasil menyentuh seluruh masyarakat hingga pelosok pedesaan. Hal ini disampaikan Zulfajri pada Seminar Nasional bertajuk 'Afirmasi Pendidikan Tinggi Melalui Kartu Indonesia Pintar' di Universitas Sulawesi Barat.

Wakil Rektor I Zulfajri menyampaikan program KIP gagasan Jokowi menjadi satu wujud sebuah afirmasi penguatan agar masyarakat dapat mengenyam pendidikan. Terutama, lanjut dia, bagi masyarakat yang terkendala masalah perekonomian. 

"Karena afirmasi itu bermakna berpihak khususnya untuk daerah-daerah yang masuk dalam kategori 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar)," kata Zulfajri dalam keterangan tertulis yang diterima Senin (19/9/2022).

Zulfajri menilai, komitmen Jokowi dalam memberikan fasilitas pendidikan bagi masyarakat kurang mampu begitu tinggi. Hal ini terlihat dari akselerasi penyaluran KIP yang terus digencarkan Jokowi hingga sekarang ini.

Dia melihat langkah tersebut sebagai bentuk keberpihakan pemerintah terhadap kebutuhan pendidikan masyarakat. Bahkan kehadirannya mampu memudahkan masyarakat mendapat pendidikan hingga ke jenjang Perguruan Tinggi.

"Afirmasi pendidikan tinggi menunjukkan bahwa kepedulian bagaimana bisa mempercepat kesempatan kuliah," tutur Zulfajri.

Data dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) 2022 menunjukkan, Pemerintah melalui Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan (Puslapdik) akan menyalurkan bantuan bagi 200.000 mahasiswa penerima KIP Kuliah Merdeka.

Bantuan biaya hidup KIP Kuliah Merdeka terbagi ke dalam lima klaster, meliputi Rp800 ribu/bulan, Rp950 ribu/bulan, Rp1,1 juta/bulan, Rp1,25 juta/bulan, serta Rp1,4 juta/bulan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

BURUH PENDUKUNG GANJAR PRANOWO PASARKAN PRODUK UMKM CIREBON DI WARUNG GANJARAN

Jokowi Ucapkan Belasungkawa untuk Tragedi Halloween di Korea Selatan

GANJAR MILENIAL CENTER JATENG GELAR PELATIHAN PUBLIC SPEAKING DI KLATEN